Kemendukbangga/BKKBN ---- Di bawah bayang-bayang Gunung Gamalama dan Tidore yang megah, di mana ombak Selat Tidore berbisik lirih menyentuh pasir Pesisir Barumadoe, hiduplah seorang lelaki tua bernama Opa Mansur.
Usianya sudah melampaui angka 72 tahun,namun ingatannya tentang laut masih setajam karang di kedalaman. Barumadoe bukan sekadar tempat tinggal baginya; itu adalah saksi bisu masa mudanya saat ia masih mampu menantang arus dengan sampan kayu yang kini hanya menjadi rongsokan di bawah pohon ketapang.
Sunyi di Balik Deburan Ombak
Setiap sore, saat matahari mulai menyentuh garis cakrawala—menciptakan semburat jingga di atas langit Maluku Utara—Opa Mansur duduk di kursi rotan usangnya. Ia menatap ke arah laut lepas, tempat kapal-kapal besar melintas menuju Pelabuhan Rum atau Bastiong di seberang sana.
Namun, di Barumadoe, waktu seolah berhenti.
Anak-anaknya? Sudah lama merantau ke Ternate dan Jakarta, hanya sesekali mengirim kabar lewat suara di balik telepon genggam yang layarnya sudah retak.
Teman sebaya? Sebagian besar sudah beristirahat tenang di bawah nisan-nisan putih yang menghadap laut.
Pemerintah? Bagi Opa Mansur, mereka hanyalah orang-orang berbaju rapi yang sesekali datang membawa janji tentang pembangunan dermaga, lalu menghilang bersama debu kendaraan.
"Aku Bukan Pengemis Masa Lalu"
Opa Mansur tidak pernah meminta belas kasihan. Meski tubuhnya mulai ringkih dan pendengarannya mulai pudar, harga dirinya sebagai putra Tidore tetap tegak. Ia tetap menganyam jaring, meski tak ada lagi tenaga untuk menariknya ke tengah laut.
"Laut ini tidak pernah lupa padaku," gumamnya pelan sambil mengunyah sirih. "Hanya manusia yang sering lupa bahwa mereka pernah hidup dari airnya."
Kehidupan di pesisir Barumadoe kini terasa asing baginya. Kafe-kafe kecil mulai tumbuh di sepanjang jalan pesisir, diisi oleh anak muda yang sibuk dengan gawai mereka, tertawa tanpa menyadari ada seorang lelaki tua yang menyimpan sejarah Tidore di dalam dadanya. Mereka lewat begitu saja, menganggap Opa Mansur hanyalah bagian dari dekorasi pantai yang mulai usang.
Penantian yang Tak Berujung
Pernah suatu ketika, seorang turis singgah dan bertanya mengapa ia masih bertahan di rumah panggung yang kayunya sudah mulai lapuk dimakan usia. Opa Mansur hanya tersenyum tipis.
secercah harapan mulai muncul saat beberapa pemuda kesehatan dan penyuluh datang meberitahukan program Lansia Tangguh dan Berdaya (SiDaya). Program ini hadir bukan sekadar memberikan bantuan fisik, melainkan mengembalikan martabat para tetua agar tetap memiliki peran di sisa usia mereka.
Transformasi Lansia di Barumadoe
Program SiDaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap Opa Mansur. Ia tidak lagi dilihat sebagai "orang tua yang menunggu waktu", melainkan sebagai Lansia Tangguh yang mandiri secara fisik, sosial, dan mental.
Dimensi Mandiri dan Berdaya
Melalui inisiatif ini, Opa Mansur tidak lagi hanya menatap laut dengan tangan kosong. Ia diberdayakan sesuai keahliannya:
Workshop Keterampilan: Opa diajak menjadi mentor bagi pemuda setempat dalam teknik menganyam jaring tradisional dan membuat miniatur perahu kora-kora untuk wisatawan.
Pojok Literasi Lansia: Sebuah ruang kecil di pesisir disediakan bagi lansia untuk bercerita tentang sejarah lokal kepada anak-anak sekolah, memastikan kearifan lokal Tidore tidak terputus.
Layanan Kesehatan Jemput Bola
Mengingat jarak dan keterbatasan fisik, tim kesehatan program ini melakukan kunjungan rutin ke rumah panggung Opa:
Pemeriksaan Geriatri: Pengecekan tensi, gula darah, dan kesehatan sendi dilakukan tanpa Opa harus menempuh perjalanan jauh.
Senam Lansia Pesisir: Setiap akhir pekan, para lansia berkumpul di tepi pantai untuk melakukan aktivitas fisik ringan yang disesuaikan dengan kemampuan mereka.
Kini, saat matahari terbenam di balik ufuk Barumadoe, Opa Mansur tidak lagi merasa terlupakan. Melalui program Lansia Tangguh dan Berdaya, ia merasa kembali menjadi bagian penting dari denyut nadi Kota Tidore Kepulauan.
Sekolah Lansia di Kecamatan Oba Utara sudah terbentuk 2 Sekolah lansia, salah satunya ada Sekolah Lansia Legenda Lokal yang diikuti oleh 20 orang.
Opa Mansur, Ia masih berdiri di sana, di rumah panggungnya, namun sekarang dengan senyum yang lebih lebar. Di tangannya kini ada semangat baru, membuktikan bahwa menjadi tua bukan berarti berhenti berguna. Di bawah langit Maluku Utara, Opa Mansur membuktikan bahwa dengan perhatian yang tepat, masa senja bisa tetap bersinar layaknya emas.
Penulis : Wendy Flaura Wijaya
Editor : Dewita